November 22, 2008

KERICUHAN DI DPR DAN KERAPAN SAPI


KERICUHAN DI DPR DAN KERAPAN SAPI




Dr. A. Latief Wiyata

Antropolog Budaya Madura

Universitas Jember



Rupanya sangat sulit menghilangkan ingatan public tentang kericuhan para anggota DPR ketika bersidang membahas kenaikan harga BBM tgl. 16 Maret lalu. Buktinya, harian Kompas edisi Minggu (27/3/2005) masih memuat beberapa tulisan secara eksklusif tentang hal itu. Belum lagi artikel-artikel yang dimuat pada hari-hari sebelumnya. Semuanya bernada geram, dan menyesalkan terjadinya peristiwa itu. Namun apa hendak dikata, peristiwa kericuhan 16 Maret sudah terlanjur terekam dalam setiap hati sanubari rakyat dan sejarah perpolitikan nasional.


Sejak era reformasi, kericuhan tersebut memang bukan yang pertama kali terjadi sehingga Gus Dur (panggilan akrab Abdurahman Wahid, mantan presiden RI) pernah menjuluki lembaga legislative yang terhormat ini sebagai taman kanak-kanak. Kejadian 16 Maret lalu menjadi antiklimaks yang membuat geram hampir seluruh rakyat karena kemudian ternyata lembaga yang terhormat ini memutuskan “menerima” kenaikan harga BBM. Dalam bahasa rakyat yang sempat saya tangkap, “buat apa ribut-ribut sampai bertengkar, toh pada akhirnya bukan aspirasi rakyat yang diperjuangkan”.


Tulisan ini tidak akan mempersoalkan hasil keputusan tersebut, melainkan mencoba mencermati lebih dalam makna-makna simbolik yang terkandung di dalamnya. Untuk itu, saya merasa perlu melakukan sedikit pendeskripsian atau pemaparan tentang peristiwa pertunjukan tradisional dalam masyarakat dan kebudayaan Madura yang dikenal dengan sebutan kerapan sapi. Secara cultural, peristiwa kerapan sapi sarat dengan makna-makna simbolik tentang keperadaban. Dengan cara ini saya mencoba membangun refleksi sekaligus upaya penyadaran – paling tidak pada diri saya sendiri – tentang makna keperadaban tadi.


Kerapan sapi merupakan suatu “adu kekuatan” antara dua pasang sapi – ada kalanya tiga pasang – yang sengaja diadakan untuk menentukan pasangan sapi mana yang paling kencang larinya di arena tanah lapang sepanjang sekitar 100 meter. Sapi-sapi yang ikut dalam kontestasi ini bukan sapi biasa sebagaimana ditemui di ladang-ladang petani ketika membajak tanah, atau sapi-sapi lain yang sering dilihat orang. Sapi-sapi kerapan adalah sapi dari jenis tertentu yang postur tubuhnya sangat anggun, kulitnya bersih bersinar, berwarna kecoklat-coklatan, dan mempunyai daya kekuatan (lari) yang mengagumkan. Pemeliharaan pun tidak sembarangan. Setiap pagi dan sore harus dimandikan secara rutin menggunakan air bersih (jika tidak ada sumber air dari PDAM, dibuatkan sumur tersendiri). Jadi bukan dimandikan di sungai yang airnya keruh apalagi di kubangan yang amat kotor seperti biasa dilakukan pada sapi-sapi untuk keperluan aktivitas pertanian dan ekonomi lainnya. Ini semua dimaksudkan untuk menjaga agar kesehatan sapi kerapan tetap terpelihara. Setiap kali dimandikan, badan sapi diurut-urut oleh seseorang yang memang memiliki keahlian untuk itu.


Belum cukup sampai di situ, sapi kerapan masih membutuhkan perawatan ekstra dengan biaya tidak sedikit. Jika dikalkulasi, biaya untuk perawatan seekor sapi kerapan – menurut seorang tokoh kerapan sapi di Bangkalan – mencapai tidak kurang dari Rp 100.000,- per harinya. Selain makanan rumput dari jenis pilihan yang diperoleh dari ladang yang khusus ditanam untuk itu, setiap hari sapi kerapan harus diberi minum jamu, berupa telur ayam berkualitas baik. Sekali minum tidak kurang dari 25 telur untuk setiap ekor sapi. Selain telur, sapi juga diberi minuman bir atau minuman energi lain (yang biasa diminum oleh para atlet atau siapa saja yang ingin badannya tetap segar, yang sekarang sedang marak dipasarkan dengan berbagai merek). Setiap kali minum minuman energi itu, sapi kerapan menghabiskan sekitar satu sampai dua liter setiap harinya. Bahkan masih ditambah dengan minuman susu segar serta madu. Minuman susu, telur, madu dan yang lainnya itu harus diberikan secara rutin setiap pagi dan sore baik menjelang, pada saat berlangsungnya kerapan maupun setelah pelaksanaan lomba.


Kandang sapi kerapan dibuat secara khusus, baik menyangkut kualitas bahannya maupun bentuk bangunannya, sehingga terkesan tidak berbeda dengan bangunan rumah hunian penduduk. Bahkan kandang-kandang sapi kerapan yang dimiliki oleh seorang tokoh terkenal mutu dan bentuk bangunannya lebih baik daripada rumah-rumah penduduk di sekitarnya. Setiap kandang berisi beberapa ekor sapi, yang penempatannya terpisah satu sama lain dalam “kamar-kamar” berukuran 2x4 meter. Setiap kamar difasilitasi oleh penerangan lampu listrik minimal berkekuatan 25 watt yang harus terus dinyalakan sepanjang malam. Bahkan jika cuaca sedang jelek, lampu harus tetap dinyalakan agar suasana “kamar” tidak gelap. Oleh karena begitu banyaknya macam fasilitas yang diperoleh seekor sapi kerapan dengan biaya yang relative sangat mahal sampai-sampai ada ungkapan dalam masyarakat Madura bahwa “biaya merawat seeokor sapi kerapan lebih besar daripada biaya merawat seorang isteri”.


Pertanyaannya kemudian, mengapa orang Madura pemilik sapi kerapan mau berkorban demikian besar hanya untuk memelihara seekor sapi kerapan? Jawabannya tentu tidak dapat diukur oleh parameter ekonomik. Bagi orang Madura, memiliki sapi kerapan merupakan kebanggaan tersendiri, karena secara social-budaya sapi kerapan sarat dengan makna simbolik bagi pemiliknya. Sapi kerapan merupakan lambang status social dan kekuasaan. Yang bersangkutan akan terangkat status sosialnya sebagai seorang tokoh yang disegani dan dihormati. Lebih-lebih jika pemilik sapi kerapan itu adalah seorang blater. Kepemilikan sapi kerapan akan semakin mempertegas kapasitas ke-blater-annya. Perlu dijelaskan secara social-budaya seorang blater merujuk pada figure seseorang selain terkenal karena kapasitasnya sebagai jagoan (dalam arti pemberani, suka berjudi, dan semacamnya) sehingga memiliki pengaruh sangat besar terhadap kehidupan masyarakat di lingkungannya. Oleh karena itu, dalam masyarakat dan kebudayaan Madura terdapat dua tokoh yang otoritas social-budayanya sangat besar pengaruhnya terhadap kehidupan orang Madura. Mereka adalah pertama, kiyai yang otoritasnya berdasarkan legimitasi Ilahiyah, dan kedua, para blater yang otoritasnya berdasarkan semata-mata legitimasi social-budaya. (lihat Wiyata, Konflik Kekerasan dan Harga Diri Orang Madura, Yogyakarta: LKiS, 2002).


Bagimana kaitannya dengan kericuhan yang terjadi di gedung DPR 16 Maret lalu? Jelas sekali amat kontras perbedaan makna-makna simbolik yang terkandung di antara keduanya. Pada peristiwa kerapan sapi di Madura, sapi-sapi justru memberikan rasa bangga pada pemiliknya (apalagi jika sapi-sapi kerapan tersebut menang dalam lomba). Bagi penontonnya kerapan sapi merupakan suatu hiburan cultural yang amat mengasyikkan. Peristiwa kericuhan di gedung DPR 16 Maret lalu sungguh sangat ironic bagi sebuah peristiwa persidangan politik yang mempertaruhkan nasib seluruh rakyat Indonesia. Apalagi melibatkan wakil-wakil rakyat dengan kedudukan sangat terhormat. Peristiwa tersebut telah membuat banyak rakyat Indonesia menjadi geram atau menimbulkan perasaan-perasaan lain semacam itu. Padahal, sudah seharusnya semua rakyat Indonesia merasa bangga terhadap para anggota DPR yang mereka pilih dalam pemilihan umum secara langsung, umum bebas, rahasia, dan jujur serta adil. Kebanggaaan mereka pasti akan semakin bertambah jika para wakil rakyat yang terhormat itu “menang dalam setiap lomba” (baca: selalu memerhatikan aspirasi dan kepentingan seluruh rakyat dalam setiap sidang).


Berdasarkan pemaparan dan pemahaman akan makna-makna simbolik tadi, kiranya dapat dibangun suatu bahan refleksi sekaligus penyadaran – paling tidak bagi diri saya pribadi. Apakah kita sebagai mahluk Tuhan Yang Maha Kuasa dengan segala kelebihan yang dianugerahkan olehNya namun tidak dimiliki oleh mahluk-mahluk lain, tidak atau masih belum sanggup menunjukkan sikap dan perilaku keperadaban yang dapat menyenangkan sekaligus memberikan kebanggaan pada setiap orang lain? Dalam konteks lingkungan social lebih luas, mengapa di negeri ini masih harus selalu terjadi peristiwa konflik kekerasan yang melibatkan kelompok-kelompok atau komunitas-komunitas baik yang bersifat vertical maupun horizontal? Kini sudah saatnya semua itu harus segera diakhiri. Karena, setiap bentuk konflik kekerasan tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Justru yang terjadi malah sebaliknya: mereproduksi masalah dan bentuk-bentuk konflik kekerasan baru!


Jember, 27 Maret 2005

2 komentar:

  1. Balasan
    1. SAYA MAS JOKO WIDODO DI SURABAYA.
      DEMI ALLAH INI CERITA YANG BENAR BENAR TERJADI(ASLI)BUKAN REKAYASA!!!
      HANYA DENGAN MENPROMOSIKAN WETSITE KIYAI KANJENG DIMAS DI INTERNET SAYA BARU MERASA LEGAH KARNA BERKAT BANTUAN BELIU HUTANG PIUTAN SAYA YANG RATUSAN JUTA SUDAH LUNAS SEMUA PADAHAL DULUHNYA SAYA SUDAH KE TIPU 5 KALI OLEH DUKUN YANG TIDAK BERTANGUNG JAWAB HUTANG SAYA DI MANA MANA KARNA HARUS MENBAYAR MAHAR YANG TIADA HENTINGNYA YANG INILAH YANG ITULAH'TAPI AKU TIDAK PUTUS ASA DALAM HATI KECILKU TIDAK MUNKIN SEMUA DUKUN DI INTERNET PALSU AHIRNYA KU TEMUKAN NOMOR KIYAI KANJENG DI INTERNET AKU MENDAFTAR JADI SANTRI DENGAN MENBAYAR SHAKAT YANG DI MINTA ALHASIL CUMA DENGAN WAKTU 2 HARI SAJA AKU SUDAH MENDAPATKAN APA YANG KU HARAPKAN SERIUS INI KISAH NYATA DARI SAYA.....

      …TERIMA KASIH ATAS BANTUANNYA AKI KANJENG…

      **** BELIAU MELAYANI SEPERTI: ***
      1.PESUGIHAN INSTANT 10 MILYAR
      2.UANG KEMBALI PECAHAN 100rb DAN 50rb
      3.JUAL TUYUL MEMEK / JUAL MUSUH
      4.ANGKA TOGEL GHOIB.DLL..

      …=>AKI KANJENG<=…
      >>>085-320-279-333<<<






      SAYA MAS JOKO WIDODO DI SURABAYA.
      DEMI ALLAH INI CERITA YANG BENAR BENAR TERJADI(ASLI)BUKAN REKAYASA!!!
      HANYA DENGAN MENPROMOSIKAN WETSITE KIYAI KANJENG DIMAS DI INTERNET SAYA BARU MERASA LEGAH KARNA BERKAT BANTUAN BELIU HUTANG PIUTAN SAYA YANG RATUSAN JUTA SUDAH LUNAS SEMUA PADAHAL DULUHNYA SAYA SUDAH KE TIPU 5 KALI OLEH DUKUN YANG TIDAK BERTANGUNG JAWAB HUTANG SAYA DI MANA MANA KARNA HARUS MENBAYAR MAHAR YANG TIADA HENTINGNYA YANG INILAH YANG ITULAH'TAPI AKU TIDAK PUTUS ASA DALAM HATI KECILKU TIDAK MUNKIN SEMUA DUKUN DI INTERNET PALSU AHIRNYA KU TEMUKAN NOMOR KIYAI KANJENG DI INTERNET AKU MENDAFTAR JADI SANTRI DENGAN MENBAYAR SHAKAT YANG DI MINTA ALHASIL CUMA DENGAN WAKTU 2 HARI SAJA AKU SUDAH MENDAPATKAN APA YANG KU HARAPKAN SERIUS INI KISAH NYATA DARI SAYA.....

      …TERIMA KASIH ATAS BANTUANNYA AKI KANJENG…

      **** BELIAU MELAYANI SEPERTI: ***
      1.PESUGIHAN INSTANT 10 MILYAR
      2.UANG KEMBALI PECAHAN 100rb DAN 50rb
      3.JUAL TUYUL MEMEK / JUAL MUSUH
      4.ANGKA TOGEL GHOIB.DLL..

      …=>AKI KANJENG<=…
      >>>085-320-279-333<<<

      Hapus