November 17, 2008

INTERAKSI SOSIAL ORANG MADURA DI RANTAU


INTERAKSI SOSIAL ORANG MADURA DI RANTAU


Dr. A. Latief Wiyata




Merantau sudah merupakan realitas sosial-budaya universal. Artinya masyarakat dari kebudayaan manapun di dunia melakukan hal itu. Begitu juga dengan orang Madura. Menurut hasil sensus penduduk tahun 2000 nampak jelas bahwa orang Madura tersebar di 30 provinsi yang ada di Indonesia. Konsentrasi terbesar ada di wilayah Jawa Timur 6.281.058 jiwa, disusul Kalimantan Barat (203.612), Kalimantan Tengah (62.228), Kalimantan Timur (30.181), dan Kalimantan Selatan (36.334). Konsentrasi terkecil ada di wilayah provinsi Gorontalo (48). Sebaran penduduk etnis Madura pada tahun 2000 baik yang ada di pulau Madura, di provinsi Jawa Timur dan di wilayah Indonesia dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel Jumlah Penduduk Madura 1930-2000


Kabupaten

1930

1961

1990

2000

Bangkalan

-

574.348

750.780

805.048

Sampang

-

484.886

703.138

750.046

Pamekasan

-

396.413

628.308

689.225

Sumenep

-

694.547

933.746

985.981

Total

-

2.150.194

4.015.972

3.230.300

Etnis Madura di Jawa Timur

-

-

-

6.281.058

Etnis Madura seluruh Indonesia

4,3 juta

-

-

6.771.727


Sumber:

1). Data Penduduk Per Kabupaten diakses dari website http://jatim.bps.go.id/

pada tgl. 02 Agustus 2004. (Data diolah kembali).

2). Suryadinata et.al. Penduduk Indonesia Etnis dan Agama Dalam Era

Perubahan Politk. Jakarta: LP3ES. 2003.




Pada tabel di atas nampak bahwa jumlah penduduk Madura pada tahun 2000 adalah 3.230.300 jiwa, sedangkan jumlah penduduk etnis Madura di seluruh propvinsi Jawa Timur sebesar 6.281.058 jiwa dan di seluruh Indonesia adalah 6.771.727 jiwa. Ini berarti bahwa dalam lingkup nasional terdapat 3.541.427 (52,29%) orang Madura merantau ke luar pulau Madura. Dari jumlah ini 3.050.758 (86,14%) perantau Madura terkonsentrasi di wilayah "Tapal Kuda", selebihnya 490.669 (13,86%) orang Madura tersebar di 29 provinsi yang lain. Angka ini cukup fantastik, karena lebih dari separuh orang Madura merantau atau berdomisili di luar pulau Madura. Lebih fantastik lagi, jika terdata secara akurat jumlah orang Madura yang merantau ke luar negeri (Malaysia, Brunei Darus Salam, Singapore, Arab Saudi, dan negara-negara lainnya).


Sebagaimana masyarakat dari kebudayaan lain, tanpa ada maksud mengabaikan motivasi lain, motivasi orang Madura merantau tidak bergeser jauh dari dua faktor utama yaitu: ekonomi dan sosial. Artinya, hampir dapat dipastikan tujuan orang Madura merantau untuk meningkatkan taraf hidup yang pada gilirannnya akan diperoleh suatu peningkatan status sosial. Sebagai perantau, mau tidak mau mereka dituntut dapat membangun suatu interaksi sosial dengan penduduk lokal. Tulisan ini mencoba mengeksplorasi bagaimana para perantau Madura membangun interaksi sosial sesuai dengan unsur-unsur primordial Madura. Sebab, dalam realitas kehidupan sehari-hari, unsur-unsur primordial menjadi pengikat utama dalam membentuk suatu identitas etnik. Unsur-unsur ini meliputi antara lain genealogi dan kekerabatan (kinship), sistem kepercayaan (religi dan agama), bahasa atau dialek serta kebiasaan-kebiasaan sosial lainnya (Geertz: 1981; Glaser dan Moynihan: 1981).




Dalam kehidupan sosial perantau Madura unsur-unsur primordial ini akan menjadi penanda ciri atau karakter tersendiri yang terwujud dalam sikap dan perilaku budaya mereka di perantauan. Tegasnya, unsur-unsur primordial yang dimiliki oleh etnik Madura selain akan menjadi unsur pembeda identitas diri, juga menjadi referensi ketika mereka harus membangun interaksi sosial dengan kelompok etnik lokal. Dalam sistem interaksi sosial, perilaku budaya perantau Madura akan mengalami "perbenturan" atau "persinggungan" dengan unsur-unsur primordial penduduk lokal sebagai penanda ciri atau karakter mereka. Dalam konteks ini, menurut pengamatan saya, perantau Madura dalam membangun interaksi sosial dengan penduduk lokal (setempat) akan menghadapi paling tidak tiga alternatif kemungkinan strategi kultural yaitu, 1) puritan dalam arti tetap mempertahankan identitas etnik, 2) adaptif yaitu tetap mempertahankan identitas etnik, namun pada saat yang bersamaan mulai "masuk" dalam identitas etnik lokal (setempat), 3) eskapistik atau melucuti identitas etnik.

Dilihat dari faktor agama, hampir dapat dipastikan semua perantau Madura memilih alternatif strategi puritan, tetap mempertahankan agamanya (Islam) selama hidup di rantau. Dalam perspektif antropologis, bagi orang Madura, agama Islam bukan saja sebagai referensi dalam berpikir, bersikap, bertindak dan berprilaku yang bersumber dari nilai-nilai Ilahiyah, melainkan sudah demikian melekat sebagai salah satu elemen terpenting identitas etnik. Relasi antara agama Islam dan identitas etnik orang Madura sangat kuat sehingga merupakan suatu ketidak laziman, bahkan kejanggalan, jika orang Madura menganut agama selain Islam. Bila hal ini terjadi, secara ekstrim, biasanya yang bersangkutan akan dianggap sebagai "bukan orang Madura" lagi.

Dalam konteks ini mudah dipahami ketika orang Madura membangun interaksi sosial di perantauan, terutama menyangkut masalah pernikahan (antaretnik), sangat mempertimbangkan faktor agama daripada faktor lain. Artinya, para perantau Madura hampir tidak mungkin menikah dengan penganut agama selain Islam. Namun demikian, di luar masalah pernikahan antaretnik, orang Madura dapat membangun interaksi dengan penduduk lokal secara baik. Misalnya, dalam aktifitas perdagangan mereka dapat melakukan transaksi bahkan membanhun mitra tanpa merasa terhalang oleh perbedaan keyakinan agama yang dianut.

Sebagai penganut agama Islam yang taat tidak membuat perantau Madura menjadi eksklusif. Bahkan kehadiran orang Madura justru lebih mewarnai nuansa keislaman penduduk lokal. Hal ini terlihat dengan jelas di kawasan "Tapal Kuda" hampir semua pemuka-pemuka agama Islam berasal dari etnik Madura (bandingkan, Ahmadi: 2003).

Dalam kebudayaan masyarakat Madura, ikatan kekerabatan mencakup sampai empat generasi ke atas (ascending generations) dan ke bawah (descending generations) dari ego, sehingga ikatan persaudaraan antarkerabat menunjukkan keeratan (intimacy) sangat kuat. Selain itu, dikenal tiga kategori sebagai oreng lowar (orang luar) atau banne taretan (bukan saudara”) sanak keluarga atau kerabat (kinsmen), yaitu taretan dalem (kerabat inti atau core kin), taretan semma’ (kerabat dekat atau close kin), dan taretan jau (kerabat jauh atau peripheral kin). Di luar ketiga kategori ini disebut Dalam kenyataannya, meskipun seseorang sudah dianggap sebagai oreng lowar tetapi hubungan persaudaraan bisa jadi lebih akrab daripada kerabat inti, misalnya karena adanya ikatan perkawinan atau kin group endogamy.

Meskipun demikian, hubungan atau interaksi sosial yang sangat akrab dapat pula dibangun oleh para perantau Madura dengan orang-orang di luar lingkungan kerabat, tanpa memperhatikan asal-usul kelompok etnik. Biasanya hubungan atau interaksi sosial itu didasarkan pada adanya kesamaan dalam dimensi kepentingan di bidang ekonomi dan politik. Bila kualitas hubungan sampai mencapai tingkatan yang sangat akrab, mereka akan dianggap dan diperlakukan sebagai keluarga atau kerabat (taretan) atau dalam ungkapan Madura disebut oreng daddi taretan (orang luar dianggap dan diperlakukan sebagai kerabat). Dalam prespektif antropologis, orang Madura mampu membentuk ikatan “kekerabatan semu” (pseudo kinship).

Dengan demikian, kuatnya ikatan kekerabatan dalam kehidupan orang Madura - tidak terkecuali di perantauan - tidak selalu dapat dimaknai sebagai cerminan dari sikap eksklusif. Sebaliknya, unsur kekerabatan orang Madura merupakan salah satu modal budaya yang mengandung makna inklusifitas sehingga memberi ruang untuk membangun dan mengembangkan interaksi sekaligus integrasi sosial dengan kelompok etnik lain. Dalam konteks ini, para perantau Madura memilih alternatif strategi adaptif. Namun ada kalanya, mereka yang sudah melakukan perkawinan antar etnik terperangkap pada alternatif startegi yang eskapistik.

Alternatif adaptif biasanya juga dilakukan oleh orang Madura di perantauan dalam hal penggunaan bahasa. Dalam pergaulan sehari-hari, seperti di tempat-tempat publik, bahasa lokal biasanya sudah merupakan bahasa komunikasi dan interaksi sosial perantau Madura dengan penduduk setempat. Sebagai sarana interaksi sosial, penguasaan bahasa lokal ternyata tidak hanya untuk mengekspresikan diri, tetapi juga menjadi sarana untuk mempermudah akses terhadap sumber daya ekonomi lokal. Salah satu faktor yang berpengaruh terhadap keberhasilan para perantau Madura dalam menguasai sektor-sektor ekonomi informal adalah karena kemampuannya menguasai bahasa lokal dengan baik sesuai dengan tujuan-tujuan interaksi sosial seperti di atas. Namun demikian, mereka tetap menggunakan bahasa Madura terutama di kalangan internal keluarga atau dengan sesama etnik Madura.

Ironisnya, bagi sementara orang Madura alternatif eskapistik yang menjadi pilihan strategi interaksi sosial di perantauan. Pengusaan bahasa lokal justru dijadikan tameng untuk menyembunyikan identitas ke-Madura-an mereka. Lebih menyedihkan lagi, kadangkala bagi kelompok ini penggunaan bahasa lokal - khususnya bahasa Jawa - justru merupakan suatu kebanggaan. Mereka nampak merasa lebih bangga jika terkesan dirinya sebagai "orang Jawa" daripada harus diketahui sebagai orang dari etnik Madura. Dalam kasus ini, alternatif strategi yang mereka pilih adalah eskpistik. Secara kultural, pilihan alternatif strategi ini tanpa disadari oleh yang bersangkutan sangat merugikan perkembangan masyarakat dan kebudayaan Madura ke depan.

Bila semua perantau Madura demikian, bukan suatu kemustahilan jika suatu saat masyarakat dan kebudayaan Madura lambat laun akan pudar oleh karena sikap dan perilaku orang Madura sendiri. Lebih-lebih jika orang Madura yang berada di pulau Madura sendiri juga "terperangkap" oleh sikap dan perilaku yang sama yang pada saat ini sudah nampak semakin menggejala.


(Makalah dipresentasikan dalam "Diskusi Budaya Madura Masa Kini" yang diselenggarakan oleh Asisten Deputi Urusan Hubungan Antar Budaya, Deputi Bidang Pelestarian dan Pengembangan Kebudayaan, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Tgl. 15-16 Agustus 2004 di Hotel Utami Sumekar, Sumenep).





2 komentar:

  1. maaf pak ya. saya anak asli pedalaman kalimantan saya cuma mau memberi tahu bahwa entis madura sebagian besar cara bersosalisasinya kurang baik. dan prilaku mereka seakan-akan MEREKA penduduk lokal dengan semau nya berbuat seenak nya TANPA MENGHARGAI PENDUDUK LOKAL SERTA MAU MENGUASAI TEMPAT-TEMPAT DI KALIMANTAN SECARA TIDAK LANGSUNG. saya rasa kurang pantas untuk datang ke KALIMANTAN. jadi saya tidak setuju apabila meraka datang ke KALIMANTAN.

    BalasHapus
    Balasan
    1. madura memang bajingan laknat...mereka sulit sekali di usir...cara yg paling bisa di upayakan adalah menekan pemda agar mengeluarkan kebijakan anti pendatang haram dari pulau madura..............

      Hapus