Desember 12, 2008

Madura ‘’Bukan Perpanjangan’’ Dari Pulau Jawa

RADAR MADURA Selasa, 5 Oktober 1999


Ibarat seorang perawan muda yang molek, Madura dilirik dan menjadi perbincangan banyak pihak. Bukan hanya di Indonesia bahkan sampai ke penjuru internasional. Dan, ini bukan lantaran Madura dikenal mempunyai potensi sumber alamnya yang berlimpah ruah seperti gas alamnya di Pagerungan Pulau Sapeken Sumenep, Camplong dan lain sebagainya. Namun masyarakat Madura yang memiliki struktur dan kultur sosial budaya, adat istiadat, dan dialeknya yang berbeda dengan daerah lainnya telah ikut memberi kesan yang sangat menarik. Termasuk juga dengan kontribusinya dalam khasanah kebudayaan nasional.

Meski begitu, jangan dikira, masih ada, bahkan banyak yang menilai, kalau Madura dianggapnya sebagai "perpanjangan" dari Jawa. Sehingga, wajar ketika orang mau mendiskusikan mengenai Madura cenderung selalu dianggap sangat tidak menarik. Malahan, secara estrem ada yang mengatakan tidaklah penting memperhatikan Madura, sehingga kalau ingin mempelajari Madura cukup hanya dengan mempelajari Jawa. Karena dengan mempelajari Jawa sudah inklusif Madura.

Padahal kalau kita melihat struktur dan kulturnya yang teramat khas, justru Madura sangat menarik sekali untuk dijadikan sebagai sebuah kajian ilmiah. Dr. A. Latief Wiyata, seorang Antropolog asal Sumenep dalam sebuah seminar yang diadakan Universitas Bangkalan beberapa waktu lalu mengatakan, insan akademik masih kurang berminat terhadap tema Madura.

Menurutnya, hal itu selain karena didasari oleh alasan-alasan yang terkesan ilmiah, namun juga tidak jarang alasan mereka justru hanya berlandaskan pada alasan-alasan yang bernada emosional. ''Umumnya alasan itu berkaitan dengan masalah keberanian atau tidak untuk mengunjungi Madura. Dan dari visi akademik, kenyataan ini memang cukup memprihatinkan,’’ tambahnya.

Padahal, Huub de Jonge, salah seorang pakar budaya Madura dalam bukunya mengatakan, bahwa Madura secara demografis-antropologis, termasuk kelompok lima besar setelah Jawa, Sunda, Bali dan Minangkabau.

Masih menurut A. Latief Wiyata, pernah suatu ketika di bulan Oktober 1991 selama seminggu para pakar masyarakat dan budaya Madura dari seluruh dunia berkumpul di kota Leiden, Nederland dalam suatu lokakarya internasional dengan topik Madurese Culture : Continuity and Change yang diselenggarakan oleh KITIV (Koninklijk Instituut voor Taal Land en Volkenkunde atau Royal Institut of Linguistics and Antropology).

Lokakarya yang dihadiri kurang lebih 20 orang yang terdiri dari ahli-ahli antropologi, sosiologi, sejarawan, musikologi, islamologi dan ekonomi pedesaan dengan keahliannya masing-masing tersebut telah menghasilkan sebuah buku berjudul Across Madura Strait The Dynamics of an Insular Society (Dijk, Jonge and Touwen Bouwsma, 1995).

Pertanyaan, mengapa justru orang asing yang sangat peduli dan tertarik meneliti soal karakteristik orang Madura? Bahkan, peneliti asing beberapa tahun yang lalu harus hidup bertahun-tahun bersama dengan penduduk Madura di perkampungan.

Ada pengalaman menarik dari Aang seorang mahasiswi perguruan tinggi swasta di Surabaya yang ditugasi oleh universitasnya untuk melakukan studi banding di Madura. ''Sampai di pelabuhan Kamal, hati ini rasanya deg-degan Mas,’’ akunya kepada Radar Madura.

Namun setelah berbulan-bulan di Madura, ia menemukan sesuatu yang lain dari sikap dan prilaku orang Madura. Ternyata, yang dia temukan dan hadapi tidak seperti yang diperkirakan banyak orang sebelumnya. ''Saya sangat heran, mengapa kultur orang Madura sangat jauh berbeda dengan yang banyak dipersepsikan banyak orang,’’ ujarnya. ''Penghormatan orang Madura terhadap tamu sangat luar biasa'', lanjutnya. Bahkan kini ia mendapatkan jodohnya dengan orang Madura.

Jadi, kalaupun ada yang mempersepsikan kalau masyarakat Madura masih memiliki stereotip yang jelek, itu adalah wajar-wajar saja. Karena memang, kadang orang luar Madura kurang arif memberikan penilaian obyektif tentang streotif orang Madura yang sesungguhnya. Pengalaman si Aang adalah sebuah contoh, betapa ia dengan jujur dan tulus berbicara soal bagaimana streotip orang Madura yang sebenarnya.

Seandainya mereka ada keinginan untuk mengetahui Madura lebih jauh lagi, seharusnya mereka berlama-lama di Madura seperti halnya peneliti orang asing yang kagum terhadap penghormatan dan kesopanan orang Madura setelah lama mempelajari sikap dan prilaku hidup bersamanya.

Dan lagi, kita mengetahui bahwa karakteristik etnis Madura sangat berbeda jauh dengan etnis lainnya. ''Karakteristik masyarakat Madura yang menonjol sekali adalah sifatnya yang ekspresif, spontan dan terbuka,’’ ujar A. Latief Wiyata.

Hal itu termanifestasikan ketika masyarakat Madura merespon segala sesuatu yang sedang dihadapi, khususnya bentuk-bentuk perlakuan orang lain terhadap dirinya. Munculnya peristiwa yang sempat mencuat kepermukaan nasional maupun internasional seperti terjadinya penembakan empat orang warga Nipah di Banyuates Sampang yang memprotes rencana pembangunan Waduk Nipah, proses pemilu 1997 yang harus diulang sebagai akibat terjadinya kecurangan, adanya rencana industrialisasi yang belum bisa diterima sepenuhnya ulama Madura adalah sedikit contoh dari sekian bentuk "perlawanan" masyarakat Madura.

Itu semua menunjukkan bahwa perlakuan yang dianggapnya tidak adil dan menyakitkan hati, secara spontan masyarakat Madura akan bereaksi. Sebaliknya, kalau ada perlakuan yang membuat hati senang, maka masyarakat Madura tanpa basa-basi secara terus terang akan mengungkapkan seketika itu juga.

Masyarakat Madura juga gigih memegang prinsip, meskipun dirinya harus berhadapan dengan ‘’moncong senapan.’’ Sebab, dalam kehidupan Madura ada satu falsafah yang sangat terkenal yaitu : lebih baik mati, daripada hidup menanggung malu. Dengan begitu konsep malo bukan hanya merupakan ungkapan malo (malu), akan tetapi menunjuk pada suatu kondisi psiko-kultural serta ekspresi reaktif yang secara spontan muncul akibat pengingkaran terhadap eksistensi diri, baik pada tingkatan individual maupun kolektif (keluarga, kampung, desa atau kesukuan).

Pernah suatu ketika seorang tokoh masyarakat ketika ditemui Radar Madura mengatakan, bahwa hanya persoalan peniti saja di Madura, bisa menjadi pertumpahan darah. ''Kalau sampeyan temukan peniti dan diambilnya tanpa memberitahukan terlebih dulu kepada pemiliknya, itu bisa menjadi persoalan besar,’’ ujarnya.

Dari ungkapan tersebut sudah jelas, bahwa secara psiko-kultural persoalan adhap asor (penuh keramah-tamahan, sopan dan hormat) menjadi sangat penting.

Seandainya ada suatu rencana mega proyek di Madura, dan itu tetap dilakukan dalam kerangka adhap asor dan tetap melibatkan para tokoh informal, tentu kejadian seperti kasus Nipah, pengulangan pemilu 1997 dan lain sebagainnya tak mungkin terjadi di Madura.

Tentu kajian-kajian kultural dan struktural masyarakat Madura yang sangat khas itu menarik untuk dijadikan obyek penelitian akademik. Mengapa justru masih sedikit dari peneliti kita untuk melakukannya. Bagaimana menurut anda! (Rasul Junaidy, bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar